KENISCAYAAN NABI DAN KETELADANANNYA DALAM PERSPEKTIF EPISTIMOLOGI

KENISCAYAAN NABI DAN KETELADANANNYA

DALAM PERSPEKTIF EPISTIMOLOGI

Oleh

Nur Hidayati

Dosen Tetap STAI UISU P. Siantar

 

Pendahuluan

Utusan-utusan Allah kepada ummat manusia oleh Alquran dinamakan Nabi dan Rasul. Nabi diutus Allah untuk membimbing manusia, untuk mencegah kejahatan dan menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang salih. Itulah sebabnya mengapa istilah-istilah  yang menyampaikan kabar gembira dan yang menyampaikan peringatan, sering dinyatakan Alquran, terutama pada awal masa-masa kenabian. Rasul berarti utusan, yang diutus Allah kepada ummat manusia.Pada dasarnya semua Rasul menyampaikan ajaran yang sama; Hanya ada satu Tuhan yang Esa, yang patut disembah, dicintai dan ditakuti. Setiap sesuatu adalah hamba Allah dan berada dibawah hukum dan perintah-Nya. Inilah doktrin Tauhid atau monotheisme Alquran.

Sejak awal sejarah Islam kaum muslimin berpandangan bahwa tuntunan Rasul-rasul Allah berakhir dengan Nabi Muhammad saw. ‘Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang diantara kalian, dia adalah Rasul Allah dan Nabi yang terakhir’.[1] Proposisi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir di dukung oleh kenyataan bahwa sebelum Islam tidak ada gerakan religius yang bersifat global. Keyakinan ini merupakan tanggung jawab bagi orang-orang yang mengaku sebagai muslim.

Nabi Muhammad adalah ‘penyampai peringatan dan kabar gembira’. Misinya adalah menyampaikan wahyu Allah swt dan ajaran yang disampaikannya itu bersumber dari Allah swt, yang sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan manusia, maka sudah semestinya ajaran tersebut di terima dan di laksanakan oleh manusia, karena seruannya itu bukan sekedar pidato yang konvensional, tetapi harus dapat meyakinkan manusia kepada ajaran penting yang di sampaikannya itu.

 

 

Pembahasan

Keniscayaan Nabi dan Keteladanannya

            Tujuan risalah semua Rasul Allah adalah untuk menegakkan masyarakat Islam di muka bumi ini, yang merupakan kewajiban, lalu melalui itu mereka dapat melaksanakan sistem kehidupan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan wahyu yang diberikan Allah kepada mereka. Setiap Nabi dan Rasul selalu berusaha menciptakan perombakan kemasyarakatan begitu mereka diangkat sebagai utusan Allah. Ada diantara mereka yang perjuangannya hanya terbatas dalam segi penyiapan sarana dan perintisan jalan seperti Nabi Ibrahim. Ada pula yang terjun langsung di arena revolusi namun risalahnya berhenti sebelum tujuan itu tercapai, seperti Nabi Isa dan ada pula yang tugasnya menyempurnakan apa yang dirintis oleh Rasul-rasul sebelumnya sehingga dapat sampai pada tujuan, seperti Nabi Muhammad saw.[2]

            Nabi Muhammad memperkenalkan manusia pada kedudukan dan nilai hakiki dirinya di dunia ini dan memberi penjelasan kepada mereka yang menjadikan manusia sesamanya, yang memiliki kekuatan lebih, sebagai Tuhan mereka yang kepada-Nya itu mereka berserah diri, bahwa manusia ini, betapapun sangat kuatnya, bukan manusia super yang berbeda dengan manusia lainnya, dan bahwa setiap orang yang lahir ke dunia ini berhak atas kepemimpinan serta pemerintahan umat manusia, bahkan tiada seorang pun yang lahir ke dunia ini dengan membawa dosa warisan, kesialan, keburukan dan harkat budak.[3]

            Pengajaran Nabi menumbuhkan banyak teori, yang kini di dukung segenap manusia sebagai teori pemersatu umat, persamaan, demokrasi dan kebebasan hak-hak asasi umat manusia dan lahirnya undang-undang di dunia dengan berbagai aspeknya. Prinsip-prinsip akhlak, peradaban dan pensucian jiwa, gerakan-gerakan di bidang ekonomi dan kehidupan yang tersebar di seluruh penjuru dunia juga revolusi di bidang teori politik yang berpijak pada sistem hukum serta pemerintahan beliau.

            Namun demikian, Nabi tidak pernah merasa bangga dengan apa yang di bawanya, dan tidak mengharap puji sanjung atas keagungan perilaku yang di perlihatkannya. Segala perbuatannya selalu dinisbatkan kepada Allah swt yang telah memuliakannya dengan perbuatan itu. Dengan lantang beliau berkata: Aku hanya seorang manusia, segala yang ada padaku bukan dari diriku sendiri, tetapi semua itu milik Allah swt dan semata-mata berasal dari-Nya, sementara Kalam yang kubacakan kepada anda, yang bisa mengalahkan kefasihan semua ahli pidato dan kehebatan syair anda itu, samasekali bukan kalamku dan bukan pula buah pikiranku, melainkan seluruh huruf-hurufnya di turunkan dari sisi Allah swt. Oleh karenanya tiada seorangpun yang berhak dipuji dan disanjung selain Allah swt. Undang-undang yang kubawakan untuk kehidupan anda dan sopan santun yang kuajarkan kepada anda, samasekali bukan dariku, bahkan aku tak sanggup membuatnya barang sedikitpun. Aku senantiasa butuh terhadap Allah swt, terhadap rahmat dan karunia-Nya dalam segala urusan kehidupanku.[4]

            Apabila kita amati, seluruh peran para Nabi dan memandangnya sebagai satu keseluruhan, maka kita akan menemukan bahwa bentuk amaliah para Nabi adalah berkisar pada:[5]

  1. Menciptakan revolusi pandangan dan alam pikiran umat manusia, memberi arah pandangan Islam, metode berpikir, cara yang mesti ditempuh, dan tujuan yang harus dicapai, kepada umat manusia dengan cara mengikuti jalan yang ditempuh para Nabi ini, serta mengikuti metode dan penilaian mereka terhadap segala sesuatu lalu membentu watak mereka sesuai dengan watak Islam.
  2. Menghimpun dan memperbanyak kekuatan melalui cara yang sistematis yang terdiri dari orang-orang yang mau mengikuti dan menyebarluaskan sistem pendidikan dan pengajaran Islam, serta mengerahkan seluruh upaya untuk membina masyarakat Islam. Untuk mereka menggunakan sarana berupa peradaban yang berkembang luas di alam dunia ini.

 

  1. Menegakkan sistem masyarakat Islam, lalu dengan itu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia berlandaskan ajaran Islam yang murni. Kemudian memikirkan perluasan revolusi pemikiran Islam ke seluruh dunia, dan memelihara kekuatan jamaah Islam melalui dakwah atau pewarisan nilai-nilai Islam kepada generasi-generasi selanjutnya berdasar ajaran Islam yang murni pula.

Nabi Muhammad bukanlah semata-mata seorang utusan yang menyampaikan pesan Tuhannya secara verbatim. Melainkan mewujudkan, menguraikan dan menjelaskan pesan Ilahi. Allah telah mempersiapkannya untuk tugas ini, dan kaumnya mengetahui tiada cacat cela dalam akhlaknya. Alquran mengatakan bahwa akhlak Muhammad secara par excellence merupakan teladan dan contoh bagi orang-orang muslim. Oleh karenanya, orang-orang muslim meyakini bahwa dua rahmat khusus yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw merupakan ketentuan yang diatur Ilahi: penyampaian pesan Ilahi secara verbatim dan perwujudannya dalam kehidupan. Suri tauladannya diterapkan dan dilaksanakan oleh orang-orang muslim dalam kehidupan mereka sehari-hari.[6]

 

Perspektif Epistimologi

Epistimologi, merupakan dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Epistimologi merupakan salah satu cabang dari filsafat ilmu yang membicarakan tentang asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Epistimologi juga merupakan pembicaraan tentang hakikat dari ilmu pengetahuan, dasar-dasarnya, ruang lingkup, sumber-sumbernya dan bagaimana mempertanggung jawabkan kebenarannya.[7]

Epistimologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam seluruh yang terlihat dalam upaya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu diperoleh melalui proses tertentu yang disebut dengan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan antara ilmu dengan hasil pemikiran yang lainnya yang tidak menggunakan metode keilmuan. Dalam perkembangan selanjutnya, metode keilmuan ini memunculkan aliran dalam epistimologi yaitu bagaimana manusia akan mendapat pengetahuannya. Diantara metodenya adalah:[8]

  1. Empirisme, pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman.
  2. Rasionalisme, pengetahuan yang diperoleh melalui rasio.
  3. Kritisme, bahwa pengalaman dan akal masing-masing memiliki peran dalam konteks diperolehnya ilmu.
  4. Fenomenalisme, pengetahuan diperoleh melalui kemampuan dalam mengonservasi, menganalisis dan menyimpulkan gejala alam yang muncul dari inderawi manusia.
  5. Intusionisme, pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi yang dimiliki seseorang. Kedekatan kepada Allah akan memudahkan seseorang memperoleh ilham untuk memecahkan persoalan.
  6. Dialektis
  7. Wahyu, yang merupakan sumber suci berasal dari Allah swt yang diberikan kepada nabi-Nya. Berisikan sejumlah informasi penting, solusi, dan perangkat pengetahuan kehidupan manusia.

Berkaitan dengan wahyu ini, pertanyaan pertama yang perlu kita utarakan adalah: Mengapa kita harus mempercayai adanya Tuhan? Mengapa kita tidak membiarkan alam beserta berbagai proses dan segala isinya berdiri sendiri tanpa perlu meyakini adanya yang lebih tinggi daripada alam, yang hanya merumitkan realitas serta memberatkan akal pikiran dan jiwa manusia? Alquran mengatakan keyakinan kepada yang lebih tinggi daripada alam itu sebagai ‘keyakinan dan kesadaran terhadap yang gaib’. Hingga batas-batas tertentu dan karena wahyu Allah ‘yang gaib’ ini dapat dilihat oleh manusia-manusia tertentu seperti Nabi Muhammad saw. Bagi orang-orang yang suka merenunginya, eksistensi Tuhan itu dapat mereka pahami, sehingga eksistensi-Nya tidak lagi diyakini sebagai sesuatu yang irrasionaldan ‘tidak masuk akal’ tetapi berubah menjadi ‘kebenaran tertinggi’. Perubahan inilah yang merupakan tujuan Alquran.[9]

Sementara tujuan hidup manusia adalah untuk ‘mengabdi’ kepada Allah atau memperkembangkan potensi-potensinya sesuai dengan perintah Allah untuk memanfaatkan alam (yang secara otomatis adalah muslim), ia pun harus mempunyai cara-cara yang memadai untuk memperoleh nafkah dan untuk ‘menemukan jalan yang benar’. Untuk menghadapi masalah ini, kasih sayang Allah mencapai puncaknya dengan ‘mengutus Rasul-rasul’, ‘mewahyukan kitab-kitab-Nya’dan menunjukkan ‘jalan’ kepada manusia. Sesungguhnya ‘petunjuk’ hidayah sejak awal telah ditanamkan ke dalam diri manusia karena pengetahuan mengenai perbedaan antara kebaikan dan kejahatan ‘telah ditanamkan ke dalam hatinya’ dan karena manusia telah mengucapkan ikrar untuk mengakui Allah sebagai Tuhannya.[10]

Allah mewahyukan risalah-Nya karena sesungguhnya aspek moral dari tingkah laku manusia itulah yang paling mudah tergelincir, paling sulit dikendalikan dan paling penting untuk keselamatan serta keberhasilannya. Alquran ‘menunjukkan’ cara untuk mengenal Allah melalui alam semesta yang ada. ‘Satu-satunya jalan yang lurus adalah yang menuju kepada Allah, sedangkan yang selain daripada itu adalah jalan-jalan yang menyimpang’. Jalan lurus ini adalah pengenalan Allah sebagai Tuhan, sedang yang selain daripada itu adalah jalan-jalan sektarian yang memecah belah umat manusia.[11]

Agama wahyu yang kita kenal juga dengan agama samawi, agama profetis, revealed religion, yaitu agama yang diciptakan oleh Allah swt, memiliki ciri sebagai berikut:[12]

  1. Berasal dari wahyu Allah swt, bukan ciptaan manusia atau siapapun selain Allah swt.
  2. Ajaran ketuhanan-nya bersifat monotheisme (tauhid) mutlak.
  3. Disampaikan oleh manusia yang dipilih oleh Allah swt sebagai Nabi/Rasul-Nya.
  4. Mempunyai kitab suci yang otentik (asli), bersih dari campur tangan manusia.
  5. Ajaran-ajarannya bersifat tetap, walaupun tafsirnya/penafsirannya bisa berubah sesuai denga kecerdasan dan kepekaan pengikut-pengikutnya, namun esensi ajarannya tetap stabil.

            Allah swt mengutus para Rasul secara berkesinambungan adalah dalam rangka menegakkan peradaban Islam. Hal ini dikarenakan semua bentuk kebudayaan, kecuali kebudayaan kependetaan, bila memiliki pandangan menyeluruh yang berkenaan dengan persoalan manusia dan kehidupan, serta memiliki metoda dan tujuan yang berkenaan dengan pembentukan masyarakat, ia pasti membutuhkan kekuatan yang mampu mengatur masyarakat dan mampu membentuk kehidupan masyarakat seirama dengan kandungan ajaran yang dibawanya. Tanpa kekuatan semacam itu, tidak ada artinya ajakan-ajakan tentang pandangan hidup, tentang hukum halal dan haram, dan tentang pelaksanaan syariat. Tidak mungkin menuntut ummat manusia agar mereka mau mengikuti jalan yang ditunjukkannya tanpa adanya kekuasaan dan pemerintahan. Tanpa kekuasaan itu, ia tidak akan mungkin mampu mewujudkan ajarannya dalam kehidupan nyata, bahkan dapat dipastikan akan tenggelam dalam lembaran-lembaran buku atau mengendap di kepala manusia.[13]

            Ada satu kenyataan yang tidak dapat dibantah yaitu bahwa suatu kebudayaan yang memiliki dukungan kekuasaan, pasti mampu mengajak ummat manusia mengikuti jalan yang ditawarkannya. Kebudayaan semacam ini mampu menggariskan arah ilmu pengetahuan dan pola berpikir manusia yang mempu menggariskan tujuan seni dan sains, yang mampu memberi arah bagi sistem pendidikan dan pengajaran dan mampu memahatkan sistem peradaban berikut komponen-komponennya, yang pada akhirnya mampu menggiring ummat manusia untuk menempuh jalan yang ditetapkannya dalam semua aspek kehidupan mereka.[14]

            Islam meluas di dunia dengan kecepatan kilat yang susah dicari bandingannya di dalam riwayat berbagai gerakan yang bersejarah, baik di masa sebelumnya maupun di zaman-zaman kemudian. Namun demikian, penyiaran Islam yang cepat ini, yang menyebabkan banyak bangsa-bangsa jatuh dalam pelukannya, namun masih jauh mereka itu untuk mengenal betul-betul semangat Islam yang sebenarnya, juga mereka tidak memahami arti sosial-ekonomi dan politik Islam yang sesungguhnya. Sayangnya pula tidak mungkin bagi pemerintah-pemerintah Islam di kala itu untuk mengadakan pengajaran tentang azas-azas keagamaan atau pendidikan moral para pemeluk baru ini seperti yang diberikan kepada orang-orang Islam pertama di Arabia. Akibatnya, kerajaan Islam meluas dan pemeluknya pun berlipat ganda, tetapi azas-azas dan ajaran Islam tak pernah menemukan jalan untuk menembus jantung ummat baru yang sangat banyak jumlahnya ini. Para penguasa tak lagi takut terhadap pendapat umum sewaktu mereka menginjak-injak perintah-perintah Islam. Mereka merampas kemerdekaan rakyat, menaklukkanya ke bawah segala bentuk ketidak- adilan seperti yang dikenal oleh sejarah dalam zaman-zaman Umayyah, Abbasiyah, Turki dan Mamluk. Dengan tidak adanya pendapat umum yang terdidik dan kokoh itu, dengan mudah para penguasa dapat mempermainkan Islam serta merampas hak-hak rakyat.[15]

            Nabi kita telah memberikan contoh konkrit sekaligus keteladanan dalam urusan kebudayaan, ketatanegaraan            dan pembinaan masyarakat serta keteladanan dalam hal peradaban. Madinah adalah negeri pertama dalam sejarah yang menerapkan nilai-nilai Islam dengan penguasaan ketatanegaraan yang sangat baik. Adanya landasan hukum yang menjadi acuan bagi terselenggaranya pemerintahan meski bukan semua penduduk negeri adalah orang-orang beriman, yakni Piagam Madinah. Yang bahkan menjadi acuan bagi negeri-negeri setelahnya hingga kini.

            Sistem kehidupan Islam benar-benar suatu sistem kehidupan yang dapat dilaksanakan. Karena ia merupakan sistem pertama kali yang pernah di laksanakan secara nyata pada kehidupan ummat manusia di atas permukaan bumi ini. Islam tidak hanya bertopang di atas hukum. Benar, ia meliputi berbagai hukum, tetapi yang pertama, Islam ingin mengadabkan manusia dari dalam, sehingga manusia akan dengan ikhlas menundukkan dirinya kepada hukum. Sehingga jika hukum itu dilaksanakan, bukan hanya di sebabkan oleh rasa takut lahiriah terhadap pemerintah, melainkan karena prakarsa moral mereka sendiri dari dalam. Pastilah hal ini merupakan hasil paling indah yang pernah dicapai oleh umat manusia dalam dunia politik, namun demikian hukum masih ada di tempatnya sepanjang masa walaupun ia hanya di panggil apabila kepentingan umum memerlukannya.[16]

            Sebagian bangsa-bangsa di zaman modern memilih penguasa-penguasanya melalui pemilihan umum dan juga mempunyai hak untuk menangguhkan atau memecatnya jika mereka gagal dalam menjalankan kewajibannya terhadap rakyat. Tetapi ini tidak lain daripada pelaksanaan secara modern atas suatu ciri penting dalam sistem pemerintahan Islam, yang telah dilaksanakan oleh Islamlebih dari tigabelas abad yang lampau. Pelaksanaannya untuk masa sekarang mudah, asalkan dengan jujur mau melaksanakannya dari dalam kehidupan kita. Karena jika bisa mengambilnya dari Inggris atau Amerika, mengapa kita tidak bisa juga melaksanakannya atas nama Islam, apalagi hal tersebut memang sudah terdapat di dalam Islam?

Islam tidak pernah menentang penggunaan seluas-luasnya penemuan-penemuan ilmiah yang telah dicapai oleh umat manusia. Kaum muslim bahkan harus memanfaatkan segala penemuan ilmiah yang baik ini. Berkata Rasulullah saw: ‘Mempelajari ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang wajib’. Apa perlu dikatakan bahwa yang dimaksud diatas adalah mempelajari ilmu pengetahuan termasuk segala macam pengetahuan. Rasulullah berseru kepada ummatnya untuk mempelajari segala cabang pengetahuan kemanapun. Islam tidak menentang peradaban selama peradaban itu mengabdi kepada kemanusiaan. Tetapi jika peradaban itu diartikan sebagai minuman beralkohol, judi, pelacuran, kolonialisme dan memperbudak rakyat di balik berbagai nama, islam akan berjuang melawan apa yang dinamakan peradaban serupa itu, dan akan berupaya untuk melindungi ummat manusia agar tidak jatuh ke dalam cengkeramannya.[17]

Teori politik Barat mendefinisikan negara terdiri atas empat unsur, yakni: wilayah, rakyat dengan ciri-ciri yang sama, pemerintahan dan kedaulatan. Negara tak bisa lahir tanpa wilayah dan harus mempunyai batas. Warganegara mesti memiliki beberapa ciri yang sama seperti ciri-ciri ras, bahasa, adat kebiasaan dan sejarah. Negara mesti memiliki institusi-institusi yang berlembaga hukum dan pemerintahan yang bersama-sama menjalankan kedaulatan dalam semua aspek kehidupan satu kehendak yang dianggap sebagai kehendak tunggal dari keseluruhan. Ini adalah definisi negara-bangsa versi Barat hasil ciptaan sejarah Barat tiga atau empat abad terakhir.[18]

Negara di dalam Islam mengambil konstitusinya dari perjanjian Madinah yang diberikan oleh Nabi pada kota tersebut sewaktu beliau hijrah ke kota itu pada tahun 622 M. semangat atau ruh perjanjian itu telah menentukan setiap bentuk negara Islam dalam sejarah. Perjanjian itu menyatakan bahwa orang-orang muslim, tanpa memandang asal usulnya (mereka termasuk dalam berbagai suku dan bangsa yang berbeda), adalah satu ummah, atau masyarakat. Yakni, mereka merupakan satu entitas berlembaga hukum yang diatur oleh hukum Islam. Selain mengakui dan mengukuhkan orang-orang muslim sebagai satu ummah, dengan menghapus perbedaan-perbedaan ras dan kesukuan mereka dengan universalisme Islam, perjanjian Madinah juga mengakui dan mengukuhkan orang-orang Yahudi sebagai suatu ummah lain sejajar dengan ummah muslim. Mereka juga masyarakat yang perlu diberi kebebasan penuh guna merealisasikan dirinya sesuai dengan warisan dan kejeniusan mereka.[19]

Jadi, negara menurut Islam bukan hanya semata-mata negara muslim, melainkan suatu gabungan ummah-ummah dari berbagai agama dan kebudayaan mereka, terikat hidup secara harmonis dan damai satu dengan lainnya. karena itu Islam adalah agama dakwah. Ia memancar dari esensinya yang universal.[20]

Demikianlah Nabi menjelaskan dan menjadi tauladan dalam konteks kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berpolitik dalam kehidupan. Lalu bagaimana dengan konteks pendidikan kita, yang hari ini telah terjadi pemisahan dan pengelompokan berdasarkan kriteria masing-masing ahli karena adanya perbedaan sudut pandang, meski sejatinya dalam Islam tidak ada pemisahan dan pengelompokan-pengelompokan ilmu-ilmu tertentu.

Faktor pendidikan bagi terbentuknya tauhid dan iman kepada Allah swt merupakan inti dari pendidikan Islam. Pilar pendidikan berintikan tauhid dan keimanan ini menjadikan manusia mampu memadukan antara fungsi akal dan wahyu. Ketika manusia telah mampu menembus ke ruang angkasa dan menginjakkan kakinya di bulan, ia tidak sekedar berhasil menguak rahasia alam atau eksploitasi sumber daya alam, melainkan berhasil pula menambah iman kepada Allah swt, iman menuntun ilmu agar tidak digunakan untuk pribadi, apalagi merusak. Iman tidaklah terbentuk melalui faktor keturunan.[21]

Islam bukanlah agama anti-modernitas, justru Islam menganjurkan agar manusia berkembang secara dinamis mencapai kemajuan dalam segala hal. Ajaran Islam tidak hanya menyangkut bagaimana tata cara, rukun, syarat atau sunnah-sunnah dan yang membatalkan wudhu, shalat, puasa, zakat, haji dan bentuk-bentuk ibadah Mahdhah serta urusan ukhrawi lainnya, melainkan juga mencakup ajaran tentang hidup di dunia dan masalah duniawi. Dengan begitu seorang muslim dituntut untuk membuat keseimbangan antara hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Menurut Maududi, ada beberapa program  yang bisa diterapkan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan, yakni:[22]

  1. Pensucian alam pikiran dan mempersiapkannya untuk menerima pertumbuhan selanjutnya dengan melakukan perombakan total dalam bidang alam pikiran dan mengubah arah tujuan hidup manusia dalam mempersiapkan mental menghadapi kebangkitan baru.
  2. Menghimpun orang-orang shalih dalam satu organisasi yang rapi, kemudian memberikan pendidikan kepada mereka. Dengan mengorganisir mereka dalam gerak yang satu pula yakni dengan memberikan pendidikan alam pikiran dan moral mereka sehingga pola berpikir mereka menjadi lebih jernih dan moral mereka menjadi lebih kuat dan suci.
  3. Usaha perbaikan masyarakat

Mencakup perbaikan seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Tentang aktivitasnya bergantung pada kekuatan sarana dan dana yang dimiliki. Mereka bergerak di desa, di kota, di lingkungan kerja, di lingkungan kelas menengah dan atas, dsb. Bukan hanya ceramah melainkan mereka telah menggariskan dalam berbagai program kerja yang dinamis dan terus berkembang maju mencapai tujuannya berdasar pertolongan Allah swt.

  1. Perbaikan pemerintahan dan administrasi

Kehancuran yang ada di masyarakat sebagian besar akarnya tertanam pada kokoh tidaknya sistem pendidikan,perundang-undangan, administrasi, perataan pendapatan dan sejenisnya yang tidak mungkin diperbaiki hanya dengan khutbah dan pengajian belaka.

Akan halnya cara yang dapat ditempuh menuju perubahan ini, maka dalam sistem demokrasi, tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan kecuali dengan memenangkan suara terbesar dalam pemilu. Untuk kita mesti menciptakan dan merebut opini masyarakat dan merubah ukuran yang mereka pakai untuk menentukan pilihan.

Ismail Raji berpendapat berbada dalam hal pendidikan ini. Menurutnya, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius adalah:[23]

  1. Pada taraf pengembangan akademis muslim sekarang, tidak beralasan bagi kita untuk mengharapkan para ilmuwan muslim mau menyumbangkan karyanya secara Cuma-Cuma. Honorarium yang setimpal dengan usaha mereka dan sejumlah tunjangan di atas gajinya yang biasa, harus di keluarkan sebagai perangsang dan imbalan bagi hasil serta mutu kerja mereka. Honorarium tersebut harus harus ditentukan berdasarkan standar internasional untuk karya-karya akademis. Tidak seharusnyalah seorang sarjana muslim, warga negara asli dan yang menetap di suatu negeri di bayar lebih rendah daripada sarjana non-muslim, warganegara asing, dan yang menjadi tamu di negara tersebut. Pembeda-bedaan semacam itu sebenarnya sebenarnya adalah merupakan akar permasalahan brain drain atau keluarnya tenaga-tenaga akademis dari negerinya untuk mengabdi di negeri orang. Ini pulalah yang merupakan akar dari keruntuhan moral para ilmuwan muslim yang akhirnya juga merupakan akar dari sikap sinis dan acuh tak acuh para ilmuwan dalam negeri.
  2. Harus diperhatikan dengan seksama bahwa hendaknya para ilmuwan yang paling kompeten yang ditugaskan untuk menulis bahan-bahan pengajaran yang direncanakan itu.
  3. Suatu pekerjaan dianggap terlalu besar untuk dilakukan oleh satu orang, maka pekerjaan itu harus dipecah menjadi bagian-bagian kecil, masing-masing dapat diserahkan pada seorang ilmuwan. Hal ini memungkinkan penyelesaian pekerjaan yang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
  4. Oleh karena pekerjaan ini salah satu usaha perintisan yang ‘pertama’ di dunia Islam dan oleh karena manfaatnya akan dinikmati oleh semua negara muslim, maka sudah seharusnyalah jika pembiayaan pekerjaan itu ditanggung oleh semua negara muslim.

Penutup

Suatu keniscayaan bagi para Nabi dan Rasul yang menjadi utusan Allah swt adalah mendakwahkan agama Allah swt berdasarkan wahyu yang diterimanya. Bahwa tiada Tuhan di alam semesta yang berhak untuk disembah oleh seluruh alam kecuali Allah swt yang menjadi Tuhan bagi segenap manusia dan seluruh alam. Para Nabi diberikan Allah swt bimbingan dan pengajaran dalam melaksanakan tugas-tugas dakwahnya, menyampaikan risalah-Nya.

Suatu keniscayaan bagi para Nabi dan Rasul yang hidup ditengah masyarakat dan umatnya untuk menjadi tauladan, menjadi rujukan perilaku dan akhlak sekaligus menjadi cerminan jati diri para pengikutnya, yang kepadanya ummat bertanya, meminta penjelasan sekaligus menjadi sumber rujukan bagi setiap masalah yang timbul yang memerlukan penyelesaian baik individu maupun kelompok.

Nabi dan Rasul mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan seluruh kehidupan manusia, dari mulai keimanan, keilmuan, kemasyarakatan, hubungan antar manusia dan antar kelompok, hubungan manusia dengan alam, hingga urusan kenegaraan yang menjadi wadah bagi masyarakat dan ummat dalam konteks kehidupannya. Oleh karenanya Nabi dan Rasul bukanlah orang yang terpisah dengan lingkungan dan masyarakatnya, yang duduk di menara gading, melainkan menyatu dan hidup bersama masyarakatnya menyelesaikan semua permasalahan kehidupan mereka dengan bimbingan wahyu dari Tuhannya, Allah swt.

Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir, penutup risalah para Nabi, yang ajarannya akan terus dipergunakan oleh ummat setelahnya sampai akhir kehidupan manusia. Keteladanan yang ditampilkannya akan senantiasa menjadi perilaku terbaik bagi siapapun yang mengikuti dan menjadikannya sebagai karakteristik dirinya, menjadi magnet bagi siapapun yang memahami tentang nilai-nilai kebaikan dan akan tetap dinamis sepanjang masa, tanpa memandang bergantinya model kehidupan dunia dan pengikutnya. Sejarah akan senantiasa berulang pada masa dan pelaku yang berbeda, jadi tetaplah berpegang kepada tuntunan dan keteladanannya.

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Lubis, Lahmuddin,  Pendidikan Agama Dalam Perspektif Islam, Kristen dan Budha, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2016, edisi: Revisi.

Maududi, Abul A’la, Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya (Terj. Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh Bihim,Dar al-Fikr al-Hadits, Beirut, 1968), Bandung: Pustaka 1984, cet. 1.

Mesiono dan Wahyudinnur, Epistemologi Islam dan Pendekataan Saintifik dalam Pembelajaran, Bandung: Citapustaka Media, 2014, cet.1.

Raji al-Faruqi, Isma’il, Islam Sebuah Pengantar, Pnrj. Luqman Hakim, Bandung: Pustaka, 1992.

Qutb, Muhammad, Salah Paham Terhadap Islam, (terj. Islam The Misunderstood Religion, Darul Bayan, Kuwait, t.t), Bandung: Pustaka, 2000, cet.3.

 

[1] Qs. al-Ahzab: 40.

[2] Abul A’la Maududi, Langkah-langkah Pembaharuan Islam, (Terj. Tarikh, Tajdid ad-Diin wa Ihya’in, Beirut, Dar al-Fikr al Hadits, 1968, Pnrj. Dadang Kahmad), Bandung: Pustaka, 1995, cet.2, h. 31.

[3] Abul A’la Maududi, Di Depan Mahkamah Akal, (Terj. Fi Mahkamah al ‘Aql, Riyadh, 1983,  Pnrj.Zainus Solihin), Bandung: Pustaka, 1986, cet.1, h.55.

[4] Maududi, Di Depan, h.63.

[5] Maududi, Langkah, h.32.

[6] Isma’il Raji al-Faruqi, Islam Sebuah Pengantar, Pnrj. Luqman Hakim, Bandung: Pustaka, 1992, h.46.

[7]Mesiono dan Wahyudinnur, Epistemologi Islam dan Pendekataan Saintifik dalam Pembelajaran, Bandung: Citapustaka Media, 2014, cet.1, h.3.

[8] Mesiono, Epistimologi, h.4.

[9] Fazlur Rahman, Tema Pokok Alquran, (terj. Major Themes of The Quran,1980),Bandung: Penerbit Pustaka, 1983, cet.1, h.2.

[10] Rahman, Tema Pokok, h.13.

[11] Rahman, Tema Pokok, h.25.

[12] Lahmuddin Lubis, Pendidikan Agama Dalam Perspektif Islam, Kristen dan Budha, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2016, edisi: Revisi, h.62.

[13] Maududi, Langkah, h.29.

[14] Maududi, Langkah, h.30.

[15] Muhammad Qutb, Salah Paham Terhadap Islam,(terj. Islam The Misunderstood Religion, Darul Bayan, Kuwait, t.t),Bandung: Pustaka, 2000, cet.3, h.321.

[16] Qutb, Salah Paham, h.325.

[17] Qutb, Salah Paham, h.250.

[18] Al-Faruqi, Islam, h.73.

[19] Al-Faruqi, Islam, h.74.

[20]Al-Faruqi, Islam, h.75.

[21] Abd Rahman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011, cet.1, h.40.

[22] Abul A’la Maududi, Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya (Terj. Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh Bihim,Dar al-Fikr al-Hadits, Beirut, 1968), Bandung: Pustaka 1984, cet. 1, h.73.

[23] Isma’il Raji al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, (Terj. Islamisation of Knowledge, Washington, 1982, Pnrj. Anas Mahyuddin), Bandung: Pustaka, 1984, cet.1, h.119-121.