Artikel Ilmiah

LANGKAH-LANGKAH PENCERAHAN DALAM PENDIDIKAN

Oleh : Nur Hidayati

Dosen Tetap STAI UISU P. Siantar

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Pendidikan dalam kehidupan manusia, tidak bisa dipisahkan dari semua aktifitasnya. Hari ini kita melihat sedang terjadi perubahan yang masif dalam kehidupan sosial. Oleh karenanya, kecenderungan perubahan paradigma tentang kecerdasan dan  pembelajaran juga mengalami perubahan. Pendidikan yang baik akan diperoleh melalui pengelolaan yang baik dan oleh orang-orang yang memiliki komitmen mutu pendidikan yang baik pula.

Kualitas pendidikan akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya. Sumber daya manusia (sdm) yang juga kita kenal dengan  modal manusia (human capital) adalah manusia yang bernilai ekonomi, pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kemampuan. Tindakan manajemen strategis sangat menentukan warna perubahan kehidupan. Kemajuan besar dalam bidang pendidikan akan dapat dicapai jika administrasi pendidikan itu sendiri dikelola secara baik. 

Human Capital mengarahkan kebijakan pendidikan yang tepat dan sesuai kebutuhan pembangunan. Mampu membangun dirinya sendiri adalah manusia yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara ekonomi dan mampu dan mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam keluarganya.

Selain human capital atau sumber daya manusia, tata kelola pendidikan berkualitas, kurikulum yang disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan juga menjadi bagian yang sangat menentukan bagi langkah-langkah pencerahan dalam pendidikan

 

PEMBAHASAN

Peristiwa historis paling penting dalam sejarah kita dan yang paling banyak memberikan pelajaran kepada kita adalah penjajahan negeri-negeri Islam oleh bangsa asing yang non Muslim. Sampai hari ini, dalam rentang waktu yang sedemikian panjang, kita belum bisa benar-benar terbebas dari pengaruh buruknya. Peristiwa historis yang mengerikan ini, apakah hanya membawa dampak negatif berupa penjajahan fisik semata ataukah disertai dampak negatif pada alam pikiran, moral , agama, peradaban, kebudayaan, politik dan ekonomi.

Jika semua orang setuju bahwa dampak negatif yang ditinggalkan penjajah dalam semua bidang tersebut, maka apa pengaruh yang ditanamkannya ke dalam diri kita, ke arah mana tujuan, serta bagaimana dengan pengaruh-pengaruhnya yang sampai kini masih tersisa dalam diri kita sekalipun para penjajah itu telah angkat kaki dari negeri kita.

Sebagai akibat dari penjajahan ini, maka pada umumnya sosok ummat kita berada di bawah bayangan kebodohan. Sementara itu lembaga-lembaga pendidikan kita saat itu hanyalah diperuntukkan bagi masyarakat lapisan atas atau menengah saja. Dengan demikian, sebagian besar dari mereka selamanya berada dalam kebodohan mutlak tentang ajaran Islam dan dalam skala besar hampir tidak pernah tersentuh oleh pengaruhnya. Selain itu masuknya begitu banyak orang ke dalam Islam yang masih dilekati oleh tradisi, khurafat dan kepercayaan-kepercayaan jahiliyah yang mereka bawa sebelumnya, yang sampai saat mereka masuk Islam tetap tidak pernah hilang.[1]

Kondisi seperti ini harus diubah. Para akadimisi muslim harus menguasai semua disiplin modern, memahami disiplin-disiplin tersebut dengan sempurna, dan merasakan itu sebagai sebuah perintah yang tak bisa ditawar bagi mereka semua untuk mempelajari seluruhnya. Setelah itu mereka harus mengintegrasikan pengetahuan baru kedalam keutuhan warisan Islam dengan melakukan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponennya sebagai world view Islam dan menetapkan nilai-nilainya.[2]

Pertumbuhan dan pengembangan ilmu tidak boleh berjalan sendiri tanpa dasar dan tujuan. Pengembangan ilmu dan teknologi harus selalu dibawah kontrol agama, karena agama meletakkan dasar motivasi dan memberikan tujuan hakiki bagi manusia. Selama ajaran Islam diterapkan dengan baik, maka keseimbangan antara iman (agama) dan ilmu pengetahuan semakin terlihat, demikian juga halnya kebutuhan aspek duniawi dan ukhrawi seimbang. Keterpaduan inilah yang pada gilirannya dapat memajukan suatu bangsa dan negara.[3]

Memajukan suatu bangsa dan negara tentu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan hal ini, ada langkah-langkah yang perlu diambil atau dilaksanakan dalam rangka memperoleh pencerahan dalam pendidikan. Diantaranya adalah: muatan kurikulum, kualitas pendidik, dan peran pemerintah di dalamnya.

 

KURIKULUM

            Esensi kurikulum ialah program. Bahkan kurikulum adalah program. Program dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum selain berisi pokok bahasan juga berupa nama kegiatan. Jika kurikulum itu berorientasi kompetensi maka kurikulum ini berisi daftar kompetensi serta indikatornya. Sekalipun isi kurikulum dapat bermacam-macam namun isi kurikulum tetap saja berupa  program dalam mencapai tujuan pendidikan.[4] Kurikulum ditentukan oleh tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

Menurut Halfian, kurikulum meliputi seluruh aktivitas pendidikan yang dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Kurikulum tidak hanya meliputi sejumlah mata pelajaran yang disajikan melainkan seluruh aktivitas yang di laksanakan dibawah organisasi sekolah, baik yang di lakukan di dalam maupun di luar kelas. Semua aktivitas tersebut disusun secara terprogram untuk kemudian dilaksanakan secara terencana. Keseluruhan aktivitas pembelajaran yang di laksanakan memiliki makna serta keterkaitan antara satu dengan lainnya. sekecil apapun program yang dilaksanakan tetap diarahkan pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh institusi pendidikan tersebut.[5]

            Dalam teori kurikulum, terdapat 4 pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:[6]

  1. Pendekatan subyek akademik

Bertolak dari ide ‘memanusiakan manusia’.

  1. Pendekatan teknologik

Dalam menyusun kurikulum program pendidikan keahlian bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat untuk selanjutnya dengan memerankan ilmu-ilmu dan teknologi serta bekerja secara kooperatif dan kolaboratif, akan dicarikan upaya pemecahannya menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.

            Dalam pandangan al-Abrasyi, penyusunan kurikulum itu hendaknya berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:[7]pertama, Pertimbangan pada adanya pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa; kedua, adanya pengaruh suatu pelajaran dalam menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti pengaruh ilmu akhlak, hadis, fiqh, atau lainnya; ketiga, perlunya menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri; keempat, mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu itu dianggap yang terlezat bagi manusia; kelima, prinsip pendidikan kejuruan, teknik, dan industrialisasi untuk mencari penghidupan; serta keenam, mempelajari beberapa mata pelajaran adalah alat dan pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.

            Umar Muhammad al-Toumi al-Syaebani mencirikan kurikulum Islami sebagai berikut:[8] menonjolkan tujuan agama dan akhlak, meluaskan perhatian dan menyeluruhnya kandungan (kurikulum) dari ilmu-ilmu dan seni, atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman, dan kegiatan-kegiatan pengajaran yang bermacam-macam, cenderung pada seni-halus, aktivitas pendidikan, jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan, bahasa asing, dan lain-lain. Ciri-ciri kurikulum diatas terkesan luas karena pendidikan Islami itu sendiri mencakup dimensi duniawi-ukhrawi, jasmani-ruhani dan materiil spiritual secara utuh dan integral.

            Konsep berpikir bahwa pendidikan yang benar ialah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang langsung dapat bekerja, adalah pola berpikir pragmatis. Pendidikan dianggap gagal jika lulusan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang tersedia. Benarkah bahwa pendidikan gagal karena tidak mampu menghasilkan lulusan siap pakai, sehingga dianggap masalah besar? Bagaimana dengan lulusan yang sanggup berbohong, merampas hak orang lain, korupsi, merasa paling benar, tidak menghargai orang lain, tidak peka terhadap rakyat jelata dan tidak mampu hidup berdampingan dengan orang lain? Apakah ini bukan merupakan masalah yang lebih besar? Mengapa pendidikan masih menghasilkan lulusan suka perang, tega membunuh sesama manusia, merampok, menjarah dan memperkosa? Bukankah ini masalah yang lebih besar daripada sekedar tidak siap pakai?[9]

            Pendidikan diselenggarakan dengan tujuan memanusiakan manusia, agar derajat manusia lebih tinggi, sekurang-kurangnya lebih tinggi daripada binatang. Bila manusia tidak di didik ia dapat saja berkembang menjadi makhluq yang lebih jahat daripada binatang. Bila pendidikan memberikan kesehatan dan kekuatan jasmani, kecerdasan, kepintaran, pengetahuan dan ketrampilan saja, maka pendidikan itu dapat menghasilkan binatang sehat, kuat, cerdas, pintar, berpengetahuan, berketrampilan. Ini lebih berbahaya daripada binatang yang benar-benar binatang. Penjahat cerdas dan terampil lebih berbahaya daripada penjahat bodoh dan tak terampil.[10]        

 

 

PENDIDIK

Di dalam ilmu pendidikan yang dimaksud pendidik ialah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu manusia, alam dan kebudayaan, yang biasa kita sebut dengan lingkungan pendidikan dan yang paling penting dari ketiganya adalah orang atau manusia. Alam dan kebudayaan tidak melakukan pendidikan secara sadar. Sedangkan manusia, ada yang melakukan pendidikannya dengan sadar, ada yang tidak dengan kesadaran, ada yang kadang sadar dan kadang tidak.[11]

Yang termasuk orang sebagai kelompok pendidik pada dasarnya adalah semua orang dan yang paling dikenal dalam ilmu pendidikan ialah orangtua murid, guru-guru di sekolah, teman sepermainan, tokoh-tokoh atau figur masyarakat. Dalam perspektif Islam, orangtua adalah pendidik yang paling bertangung jawab. Allah menitipkan anak itu kepada kedua orangtuanya, seperti yang termaktub dalam Alquran ‘jagalah dirimu dan keluargamu dari ancaman neraka’ .  Guru di sekolah adalah pendidik yang kedua, secara teoritis.[12]

Dalam konsep Islam, pendidikan Islam mengimplementasikan bukan sekedar pengajaran atau penyampaian (ta’lim) tetapi juga pelatihan seluruh diri siswa (tarbiyah). Menurut Nasr, guru bukan sekedar seorang muallim ‘penyampai pengetahuan’ tetapi juga seorang murabbi ‘pelatih jiwa dan kepribadian’. Sistem pendidikan Islam tidak pernah memisahkan pelatihan pikiran dari pelatihan jiwa dan keseluruhan pribadi seutuhnya, ia tidak pernah memandang alih pengetahuan (transfer of knowledge) dan pemerolehan yang absah tanpa dibarengi pemerolehan kualitas-kualitas moral dan spiritual.[13]

Undang-undang RI No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dilihat dari tugas dan tanggung jawabnya, maka guru dapat dikategorikan tenaga profesional. Untuk memperoleh guru yang berkualitas dan profesional, langkah yang dilakukan pemerintah adalah penjaringan calon guru dengan cara seleksi yang dapat memastikan bahwa guru yang terjaring adalah orang-orang yang berkualitas, berkarakter, berpengetahuan dan berintegritas. Pembinaan dan pengembangan karier guru merupakan tanggung jawab pemerintah, pemerintah  daerah, penyelenggara satuan pendidikan, perguruan tinggi, asosiasi profesi guru, masyarakat peduli pendidikan dan guru itu sendiri secara pribadi.[14]

Selain hal-hal tersebut, penting bagi guru untuk dapat melakukan inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan merupakan upaya dalam memperbaiki aspek-aspek pendidikan dalam praktiknya. Juga merupakan suatu perubahan yang baru dan kualitatif, berbeda dengan keadaan sebelumnya, yang dengan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan. Inovasi dalam dunia pendidikan bisa berupa ide, barang, atau metode, atau discovery atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.[15]

Urgensi inovasi dalam pendidikan diantaranya adalah karena revolusi informasi telah mengakibatkan dunia menjadi semakin terbuka, menghilangkan batas-batas geografis, administratif-yuridis, politis dan sosial budaya. Masyarakat global, masyarakat teknologis, masyarakat informasi yang bersifat terbuka, berubah sangat cepat dalam memberikan tuntutan, tantangan bahkan ancaman-ancaman baru. Pada abad sekarang ini, manusia dituntut berusaha lebih banyak mengetahui (knowing much), berbuat banyak (doing much), mencapai keunggulan (being exellence), menjalin hubungan dan kerjasama dengan orang lain (being sociable), serta berusaha memegang teguh nilai-nilai moral (being morally), manusia-manusia unggul, bermoral dan pekerja keras, inilah yang menjadi tuntutan dari masyarakat  global.[16]

 

PEMERINTAH

            Kebijakan maupun kebijaksanaan merupakan suatu hal yang fundamental dalam segala bentuk kegiatan khususnya dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan kebijakan dan kebijaksanaan menjadi tolok ukur atau barometer atas konsekuensi yang akan dicapai. Artinya, sejauh mana kualitas dari kebijakan tersebut, sejauh itu pula tingkat keberhasilan yang akan didapatkannya. Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu upaya mewarisi nilai yang menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan mampu dan senggup untuk bersaing dengan manusia lainnya. pendidikan yang berkualitas memerlukan sebuah regulasi sistem atau kebijakan yang mengatur tentang pendidikan tersebut.[17]

            Lahirnya Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan bagian upaya dari kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era modern ini. Dengan undang-undang ini, kebijakan pendidikan berubah. Otoritas penyelenggaraan yang berada pada pemerintah pusat berpindah ke tangan pemerintah daerah.

            Dalam upaya pembangunan di bidang pendidikan, Undang-undang Dasar hasil amandemen telah mengamanatkan bahwa minimal 20% APBN/APBD diperuntukkan bidang pendidikan.

Pemerintah juga menetapkan kebijakan WAJAR (wajib belajar) 9 tahun. Melalui kebijakan ini diharapkan setiap warga negara Indonesia minimal berpendidikan sampai tingkat SMP atau sederajat. Selain hal tersebut, pemerintah juga meningkatkan upaya partisipasi pendidikan masyarakat. Diantaranya dengan cara pengadaan beasiswa-beasiswa, program bidik misi, dsb.

Pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan baik pusat maupun daerah serta kementerian agama yang membidangi pendidikan, wajib melakukan equity dan equality, yakni keadilan dan pemerataan dalam kesempatan memperoleh pendidikan, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan lebih merata, meluas kesempatannya pada seluruh anak negeri.

Harapan akan terwujudnya manusia Indonesia yang berkualitas bertumpu pada sistem pendidikan yang dijalankan. Azyumardi Azra menawarkan empat langkah strategi dalam dalam melakukan reformasi sistem pendidikan nasional, yakni:[18]pertama, menjamin kesempatan (equity) bagi setiap anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat lingkungan masing-masing, dan pada saat yang sama juga memberikan peluang yang luas bagi peningkatan kemampuan pendidikan masyarakat dengan memberikan kesempatan bagi diversifikasi program pendidikan; kedua, menyelenggarakan pendidikan yang relevan dan bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat madani Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan pada saat yang sama meningkatkan efisiensi internal dan eksternal pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan; ketiga, menyelenggarakan sistem pendidikan yang demokratis dan professional dan dapat dipertanggung jawabkan (accountable) bagi masyarakat dan seluruh stakeholders lainnya; keempat, mengurangi peranan pemerintah sehingga lebih merupakan fasilitator dalam implementasi sistem pendidikan.

           

PENGHAPUSAN DIKOTOMI

            Sayyed Hosein Nasr merekonstruksi bangunan keilmuan dalam Islam dengan berlandaskan pada ide  kesatuan ilmu yang merupakan inti dari wahyu dalam Islam. Dalam Islam, hirarki ilmu atau bangunan keilmuan adalah satu kesatuan, tidak terpisahkan antara ilmu sebagai pengetahuan, ketrampilan dan keahlian, dengan ruh atau kekuatan ilmu tersebut dalam membimbing manusia, mengantarkan pada tujuan pendidikan yang paripurna. Dalam dunia pendidikan Islam, kita juga mengenal Syed Naquib al-Attas yang menyatakan bahwa unsur fundamental dalam pendidikan Islam adalah ta’dib, yang tidak meninggalkan akhlak dalam bangunan keilmuan sehingga mengantarkan pencari ilmu kepada pemilik ilmu yang sebenarnya. Demikian juga tentang ahli pendidikan Islam Isma’il Raji al-Faruqi dengan gagasan cemerlangnya tentang Islamisasi Pengetahuan.

Menurut Nasr, bahwa prinsip-prinsip yang mendasari pendidikan Islam pada gilirannya mustahil untuk dipahami tanpa apresiasi atas pandangan para filosof berkenaan dengan aspek pendidikan mulai tujuan hingga kandungannya dan dari kurikulum hingga metode-metodenya.[19]

Nasr berpendapat, bahwa sistem pendidikan yang mampu menghasilkan seorang al-Biruni atau seorang Ibnu Sina pastilah ia menerapkan secara serius pandangan-pandangan Islam yang di pegang. Selama ratusan tahun Islam telah menghasilkan muslim-muslim yang patuh sekaligus pemikir-pemikir yang handal di berbagai disiplin intelektual.[20]

Sejak awal harus dinyatakan bahwa filsafat Islam seperti yang berkembang selama ratusan tahun adalah berkarakter Islami dan merupakan bagian integral dari tradisi intelektual Islam, namun di tahun belakangan signifikansi filsafat Islam di lupakan dan bahkan karakter Islaminya disangkal oleh sebagian besar fundamentalis yang atas nama Islam yang diinterpretasikan secara rasionalistik, secara lahiriyah menentang hal-hal yang berbau barat, sementara pada saat yang sama memberi peluang gagasan-gagasan yang berbau modernisme untuk mengisi kekosongan yang tercipta dalam pikiran dan jiwa mereka sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap tradisi intelektual Islam.[21]

Fazlur Rahman memandang bahwa sekalipun modernisme klasik telah berjalan jauh dan berhasil dalam menjalankan arah interpretasi Islam yang harus menyesuaikan ajaran-ajaran pokok Islam terhadap konteks modern, namun menurutnya masih mempunyai dua kelemahan, yakni: Pertama, tidak mengelaborasi metodenya yang semi eksplisit terletak pada tanggapannya terhadap isu-isu tertentu serta tidak mengelaborasi implikasi-implikasi dari prinsip dasarnya, hal ini dapat menghalangi modernisme klasik untuk melakukan interpretasi yang sistematik dan besar-besaran terhadap Islam; kedua, hal ini mengakibatkan munculnya reaksi dalam bentuk anti Barat, namun tidak memiliki metodologi untuk menegaskan keberadaannya.

Karakteristik utama dari gerakan yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman  adalah suatu metodologi sistematis yang mampu melakukan rekonstruksi Islam secara menyeluruh dan tuntas serta setia kepada akar-akar spiritualnya dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan Islam modern, tanpa mengalah secara membabi buta kepada Barat atau menafikannya. Juga harus bersikap kritis terhadap warisan-warisan sejarah keagamaannya.[22]Rahman yakin akan masa depan kesuksesan Islam yang murni disandarkan pada Alquran yang memberi harapan dan progresif.

Kemunduran umat Islam adalah akibat ajaran Islam tidak lagi diterapkan dan nilai-nilai Alquran sudah digantikan bahkan terkadang berseberangan ketika membahas solusi yang harus dilaksanakan. Seluruh ilmu pengetahuan berasal dari Yang Maha Tahu. Selanjutnya, ciri pokok disiplin keilmuan adalah obyektif, universal dan netral, sehingga, yang lebih penting untuk diislamkan bukan ilmunya, melainkan ilmuwannya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa para ilmuwan yang dipengaruhi oleh tata nilai tertentu dan yang menentukan untuk apa ilmu yang dikuasainya tersebut digunakan, atau justru disalah gunakan.[23]

 

PENUTUP

 

Kualitas pendidikan akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya. Sumber daya manusia (sdm) yang juga kita kenal dengan  modal manusia (human capital) adalah manusia yang bernilai ekonomi, pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kemampuan. Tindakan manajemen strategis sangat menentukan warna perubahan kehidupan. Kemajuan besar dalam bidang pendidikan akan dapat dicapai jika administrasi pendidikan itu sendiri dikelola secara baik. 

Para akadimisi muslim harus menguasai semua disiplin modern, memahami disiplin-disiplin tersebut dengan sempurna, dan merasakan itu sebagai sebuah perintah yang tak bisa ditawar bagi mereka semua untuk mempelajari seluruhnya. Setelah itu mereka harus mengintegrasikan pengetahuan baru kedalam keutuhan warisan Islam dengan melakukan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponennya sebagai world view Islam dan menetapkan nilai-nilainya.

Pertumbuhan dan pengembangan ilmu tidak boleh berjalan sendiri tanpa dasar dan tujuan. Pengembangan ilmu dan teknologi harus selalu dibawah kontrol agama, karena agama meletakkan dasar motivasi dan memberikan tujuan hakiki bagi manusia. Selama ajaran Islam diterapkan dengan baik, maka keseimbangan antara iman (agama) dan ilmu pengetahuan semakin terlihat, demikian juga halnya kebutuhan aspek duniawi dan ukhrawi seimbang. Keterpaduan inilah yang pada gilirannya dapat memajukan suatu bangsa dan negara.

Memajukan suatu bangsa dan negara tentu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan hal ini, ada langkah-langkah yang perlu diambil atau dilaksanakan dalam rangka memperoleh pencerahan dalam pendidikan. Diantaranya adalah: muatan kurikulum, kualitas pendidik, dan peran pemerintah di dalamnya.

 

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Abrasyi,Muhammad AthiyahDasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,terj. Bustami A Gani dan Djohar Bahry dari: al-Tarbiyali al-Islamiyah,Jakarta: Bulan Bintang, 1990.

Al-Syaebani, Omar Muhammad al-Toumi, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi,Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002.

Hossein Nasr, Sayyed, Islam Tradisi di Kancah Dunia Modern, terj. Lukman Hakim, Bandung: Pustaka, 1994, cet. 1.

Lubis, Halfian, Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia, (Studi Tentang Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan), pnrbt: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2008, cet.1.

Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003, cet.1.

Syafaruddin, Inovasi Pendidikan, Suatu Analisa Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan, Medan: Perdana Publishing, 2016, cet.4.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Remaja Rosda Karya,2010, cet.4.

 

[1]Abul A’la Maududi, Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya, Bandung: Pustaka, 1984, h.9.

[2] Ismail Raji Al Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, Terj. Islamitation of Knowledge: General Principles and Workplan,  pnrj. Anas Mahyuddin, (Bandung: Pustaka,1984), cet.1, h.35.

[3] Lahmuddin Lubis & Elfiah Muchtar, Pendidikan Agama dalam Perspektif Islam, Kristen dan Budha (Medan: Citapustaka Media Perintis, 2016), Edisi: Revisi, cet.1, h.60.

[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2010, cet.4), h.99.

[5] Halfian Lubis, Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia, (Studi Tentang Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan), pnrbt: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2008, cet.1. h.215.

[6] Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003, cet.1), h.150.

[7] Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A Gani dan Djohar Bahry dari: al-Tarbiyali al-Islamiyah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h.173-184.

[8] Al-Syaebani, Omar Muhammad al-Toumi, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h.490-519.

[9] Tafsir, Filsafat, h.129.

[10] Tafsir, Filsafat, h.130.

[11] Tafsir, Filsafat, h.170.

[12] Tafsir, Filsafat, h. 173.

[13]Sayyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Kancah Dunia Modern, terj. Lukman Hakim, (Bandung: Pustaka, 1994), cet. 1,h. 125.

[14] Syaiful Sagala, Human Capital, Membangun Modal Sumber Daya Manusia Berkarakter Unggul Melalui Pendidikan Berkualitas (Depok: Kencana, 2017), cet.1, h.89-91.

[15] Syafaruddin, Inovasi Pendidikan, Suatu Analisa Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan (Medan: Perdana Publishing, 2016) cet.4, h.52.

[16] Syafaruddin, Inovasi, h. 57.

[17] Syafaruddin, Peningkatan Kontribusi Manajemen Pendidikan (Medan: Perdana Publising, 2015), cet.1,h.67.

[18]Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002), h.xiii.

[19]Nasr, Islam Tradisi,h.150.

[20] Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan-gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), cet.1, h.352.

[21] Nasr,  Islam Tradisi, h. 151.

[22]Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas: Study atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1996), cet. VI, h.190.

[23] Nur A. Fadhil Lubis, Rekonstruksi Pendidikan Tinggi Islam, (Medan: Pnrbit IAIN Press, 2014), cet.1, h. 66.